Sikap Muslim Menghadapi Musibah Virus Corona (COVID-19)


Oleh Syerif Nurhakim

Kata musibah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya kejadian atau peristiwa menyedihkan yang menimpa. Malapetaka atau bencana.  Musibah dalam kaitannya dengan seorang muslim bisa bermakna sebagai kejadian seperti sakit, kematian, rasa sedih, derita hidup, atau bahkan digigit serangga. 

Dalam Islam kata musibah ternyata telah beberapa kali disebut dalam Al-Quran. Salah satunya dalam Surah Al-Baqarah [2]: 156.

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ

Artinya: “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali). QS. Al-Baqarah [2]: 156. 

Ayat di atas sering kali kita dengar ketika sahabat atau orang-orang yang kita cintai mengalami musibah sebagai cara untuk menghibur hati yang tengah berduka. Tujuannya tidak lain adalah agar orang yang berduka tidak mengalami kemalangan dan kesedihan yang berkepanjangan, serta agar orang yang sedang bersedih tidak sampai mengalami putus asa atau putus harapan.

Dunia saat ini sedang mengalami musibah dunia yang oleh WHO dinamai sebagai pandemik global, di mana sebuah virus menyebar dengan cepat dan menimbulkan rasa was-was dan takut. Wabah penyakit ini dapat menyerang siapa saja dari berbagai bangsa. Semua negara berusaha mencegah wabah ini dengan kemampuan masing-masing, mulai dari upaya pencegahan hingga pencarian vaksin untuk melawan virus tersebut.

Dalam menghadapi kenyataan ini, bagaimanakah sikap yang seharusnya diambil seorang muslim? Untuk menguatkan aqidah Islamiyah, marilah kita hadapi musibah ini dengan langkah-langkah berikut:

Pertama, kita harus mengembalikan segala urusan kepada Allah, karena semua yang terjadi di muka bumi ini adalah atas izin dan kehendak-Nya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:


مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan setiap orang yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”  (QS At-Taghabun : 11).


Kedua, momen untuk melatih ujian kesabaran kita, karena hidup ini adalah pertautan suka dan duka, syukur dan sabar adalah jalannya. Hal ini seperti disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya : “Seluruh urusan orang beriman itu begitu menakjubkan, karena pasti berujung pada kebaikan. Dan hal itu hanya terjadi pada diri orang beriman.Jika mengalami hal yang menyenangkan, dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan. Dan jika mengalami hal yang menyedihkan, dia bersabar dan hal itu pun merupakan kebaikan.” (HR Muslim).
Ketiga, menyadari tanda-tanda kekuasaan Allah. Bahwa semua yang ada di muka bumi ini adalah makhluk Allah, ciptaan-Nya, dari yang paling besar hingga yang terkecil dan yang tak kelihatan. Ini semua tanda kekuasaan Allah Yang Maha Segalanya.

Itu semua menunjukkan tanda kekuasaan Allah. Seperti firman-Nya:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ


Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS Al-Baqarah: 164). 


Keempat, bisa jadi musibah, termasuk wabah penyakit, kerusakan yang terjadi adalah akibat ulah tangan manusia. Ulah perilaku berlebihan, tidak menjaga kebersihan, ceroboh, dan sejenisnya.
Sebagaimana Allah mkengingatkan di dalam ayat-Nya:


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Ruum: 41). 


Kelima, mungkin juga sebagai peringatan dari Allah, akibat perbuatan dosa manusia, banyak maksiat, mengonsumsi yang dilarang dalam syariat, dan jauh dari pengabdian kepada Sang Pencipta. Allah mengingatkan manusia agar kembali ke jalan yang diridhai-Nya.

 
Seperti peringatan Allah di dalam Al-Quran :
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS Asy-Syura: 30).

Keenam, bahwa kematian adalah mutlak akan datangnya, itu bukanlah karena seseorang atau benda apapun, tapi semata-mata karena ajal yang sudah Allah tentukan. Maka, bagi yang tertimpa wabah corona, atau apapun, tetap berharap dan bergantung mutlak kepada Allah.


Tidak takut berlebihan, lalu tidak mau kumpul di majelis ta’lim dengan alasan takut corona. Lalu Jumatan libur karena khawatir terbangkit corona, dan sebagainya. Mungkin pembatasan, atau sterilisasi sebelum dan sesudah kegiatan.

Adapun kepada manusia, seperti periksa dokter, karantina perawatan, itu hanyalah ikhtiar, yang memang harus maksimal juga dilakukan, agar dapat sehat kembali.

Soal ajal, Allah menyebutkan di dalam firman-Nya :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ  وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً   ۗ  وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS Al-Anbiya [21]: 35).


Ketujuh, tantangan keilmuan bagi kalangan ahli kedokteran, bilogi dan pakar lainnya, tentu menjadi media penelitian intensif untuk menemukan antivirusnya. Sehingga dapat menyelamatkan orang lebih banyak lagi.


Marilah kita semua yakin, bahwa setiap penyakit, termasuk wabah virus, pasti ada obatnya. Kita manusia tinggal mengupayakan sesuai ilmu dan pengetahuan tentunya. Dengan tetap berkeyakinan bahwa hakikatnya Allah-lah yang menyembuhkan. Pengobatan adalah usahanya.



Allah menyebutkan di dalam Al-Quran:
وَ إِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ

Artinya: Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (QS Asy Syu’ara: 80).



Pada ayat lain dikatakan:


وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS Al-An’am: 17).

Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari musibah global ini. Semoga kita semua selamatkan dan dijauhkan dari keadaan lemah iman. Semoga kita semua diberikan kekuatan dan kesabaran yang besar. Dan kita berdoa semoga wabah ini segera berlalu. Dan kita semua dapat meninggal dalam keadaan husnul khotimah.  Aamiin. Wallahu a’lam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MELANJUTKAN KEBAIKAN RAMADAN DI BULAN SYAWAL

  Assalamu'alaikum  saudaraku sekalian Momentum Ramadan 1445 H telah kita lewati bersama, dan kini kita memasuki Bulan Syawal 1445 H. D...